HELLOOO !!!

Please read, comment, then follow my blog :)

Rabu, 30 Januari 2013

Banjir Jakarta

         Hari Kamis lalu, tepatnya tanggal 17 Januari 2013 Ibukota Jakarta berubah menjadi lautan dalam seketika. Dari perkampungan sampai jalan-jalan protokol ibukota ikut dibanjiri air hujan dan air kiriman dari tanggul-tanggul yang sudah tidak kuat menahan debit air yang semakin meninggi. Banjir ini sebenarnya sudah dimulai sejak Desember 2012, dan baru mencapai puncaknya pada Kamis, 17 Januari 2013. Selain curah hujan yang tinggi sejak Desember 2012, sistem drainase yang buruk, dan jebolnya berbagai tanggul di wilayah Jakarta, banjir ini juga disebabkan meningkatnya volume 13 sungai yang melintasi Jakarta. Salah satunya bendungan katulampa yang berada di kota Bogor tidak mampu lagi menampung debit air dan akhirnya terpaksa membuka pintu air yang akhirnya mengalir ke Jakarta dan menyebabkan banjir di Ibukota.
         Selain itu, tanggul BKB yang jebol menjadi sumber penyebab banjir di sekitar Jl. Sudirman, Jakarta. Tingginya debit air dari Bogor disertai hujan deras menyebabkan tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) di sekitar Jl. Latuharhari, Menteng, itu tidak dapat menahan air dan membanjiri kawasan Thamrin-Sudirman. Stasiun dan jalan-jalan yang terendam  menyebabkan sebagian besar transportasi tidak dapat beroperasi. Mereka yang menggunakan kendaraan pribadi pun tidak bisa kemana mana karena jalan-jalan tertutup air dan tidak bisa dilewati. Hal ini mengakibatkan Jakarta lumpuh pada hari itu.
           Salah satu dari sekian banyak yang menyebabkan banjir adalah kewalahannya pemerintah kota Jakarta mengatur tata kota. Tidak sedikit masyarakat pendatang yang menjadikan bantaran sungai sebagai area tempat tinggal. Rumah yang kadang terbuat hanya terbuat dari seng dan kardus bekas dijadikan sebagai tempat bernaung setelah berjibaku dengan kehidupan keras Ibu Kota demi menghilangkan label  kemiskinan yang selama ini menempel pada dirinya.
      Di sisi lain, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli. Daerah resapan “ditanami” gedung dan mall demi pendapatan daerah dan memuaskan nafsu kapitalis yang menanamkan modal di sana demi meraih keuntungan tanpa menghiraukan akibat dari banyaknya bangunan yang ternyata mengambil lahan hidup air. Ditambah lagi dengan tidak adanya political will dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah rutin ini juga menjadi penyebab dari berulangnya masalah banjir. Hal ini terlihat dari sistem anggaran yang tidak adaptable untuk mengatasi bencana, serta pejabat dan petugas yang tidak kompeten dan abai mengadakan dan mengawasi infrastruktur pembangunan.
        Bencana banjir yang melanda ibukota Jakarta sontak menimbulkan banyak  sukarelawan yang membantu para korban dengan mendirikan posko-posko serta mengumpulkan bantuan seperti pakaina, makanan, serta obat-obatan yang dibutuhkan para korban banjir. Bahkan gubernur DKI Jakarta yang baru beberapa bulan ini menjabat ikut serta turun ke lokasi-lokasi banjir untuk melihat langsung keadaannya.
 
       Kita tidak bisa menyalahkan gubernur atas bencana banjir yang terjadi. Banjir Jakarta merupakan tanggung jawab semua warga DKI Jakarta. Untuk  itu, kita sebagai warga DKI Jakarta wajib memelihara kebersihan kota Jakarta agar bencana seperti ini dapatdikurangi bahkan kalau bisa jangan sampai terjadi lagi.



Sumber:
http://kampus.okezone.com/read/2013/01/30/367/753921/banjir-jakarta-musibah-teknis-dan-sistem




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar