HELLOOO !!!

Please read, comment, then follow my blog :)

Minggu, 27 Februari 2011

Hubungan Individu dan Masyarakat


HUBUNGAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Umpama keluarga sebagai kelompok sosial yang terkecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tartentu.

Hubungan individu dan masyarakat secara umum :
Hubungan antara individu dan masyarakat telah.banyak disoroti oleh para ahli baik para filsuf maupun para ilmuan sosial. Berbagai pandangan itu pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga pendapat yaitu pendapat yang menyatakan bahwa (1) masyarakat yang menentukan individu, (2) individu yang menentuk masyarakat, dan (3) idividu dan masyarakat saling menentukan.
            Pandangan yang pertama terhadap hubungan antara masyarakat dan individu didasarkan bahwa masyarakat itu mempunyai suatu realitas tersendini. Masyarakat yang penting dan Individu itu hidup untuk masyarakat. Pandangan ini berakar pada realisme yaitu suatu aliran filsafat yang mengatakan bahwa konsep-konsep umum seperti manusia binatang, pohon, keadaan, keindahan dan sebagainya itu mewakili realita luar diri yang memikirkan mereka. Jadi di luar manusia yang sedang berpikir ada suatu realitas tertentu yang bersifat umum. Oleh karena itu berlaku secara umum dan tidak terikat oleh yang satu persatu. Jika mengatakan manusia itu makhluk jasmani dan rohani, maka kita membicarakan setiap manusia terlepas dan manusia yang manapun dan di manapun. Konsekuensi dari pendapat itu maka masyarakat itu merupakan suatu realitas. Masyarakat memiliki realitas tersendiri dan tidak terikat oleh unsur yang lain dan yang berlaku umum. Masyarakat yang dipindahkan oleh seseorang itu berada di luar orang yang berpikir tentang masyarakat itu sendiri. Sebelum individu ada masyarakat yang dipikirkan itu telah ada. Oleh karena itu masyarakat itu tidak terikat pada individu yang memikirkannya. Menurut K J Veerger (1986) ada tiga pandangan yang memandang masyarakat sebagai suatu realitas yaitu pandangan holistis, organis dan kolektivitis.
            Pandangan holisme terhadap hubungan individu dan masyarakat. Istilah holisme berasal dan bahasa Yunani, Holos yang berarti keseluruhan. Holisme memandang secara berlebihan terhadap totalitas (keseluruhan) path kesatuan kehidupan manusia dengan mengingkari adanya perbedaan di antara manusia. Keseluruhan dipandang sebagai sesuatu hal yang melebihi dari bagian-bagian. Pandangan yang bersifat holistis ini tampak pada pandangan Aguste Comte (1798 - 1853). Menurut Aguste Comte masyarakat dilihat suatu kesatuan di mana dalam bentuk dan arahnya tidak tergantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan otomatis perkembangan akal budi manusia. Akal budi dan cara orang berpikir berkembang dengan sendirinya. Prosesnya berlangsung secara bertahap, merupakan proses alam yang tak terelakkan dan tak terhentikan. Perkembangan ini dikuasal Oleh hukum universal yang berlaku bagi semua orang di manapun dan kapanpun Dan pandangan Comte in dapat diketahui bahwa umat manusia itu dipandang sebagai suatu keseluruhan, individu merupakan bagian-bagian yang hidup untuk kepentingan keseluruhan.
            Pandangan organisme terhadap hubungan antara individu dan masyarakat. Organisme suatu aliran yang berpendapat bahwa masyarakat itu berevolusi atau berkembang berdasarkan suatu pninsip intrinsik di dalani dirinya sama seperti halnya dengan tiap-tiap organisme atau makhluk hidup. Prinsip perkembangan ini berperan dengan lepas bebas dari kesadaran dan kemauan anggota masyarakat.

Pandangan hubungan antara individu dan masyarakat sesuai dengan konsep organisme muncul dari Herbart Spencer (1985) diringkas oleh Margaret H Poloma (1979) sebagai berikut:
1.      Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalami pertumbuhan.
2.      Disebabkan oleh pertambahan dalam ukurannya, maka struktur tubuh sosial (social body) maupun tubuh organisme hidup (living body) itu mengalami pertambahan pula, dimana semakin besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pula bagian-bagiannya, seperti halnya dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin besar Binatang yang lebih kecil, misalnya cacing tanah, hanya sedikit memiliki bagian-bagian yang dapat dibedakan bila dibanding dengan makhluk yang lebih sempurna, misalnya manusia.
3.      Tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organissme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu: “mereka tumbuh menjadi organ yang berbeda dengan tugas yang berbeda pula”. Pada manusia, hati memiliki struktur dan fungsi yang berbeda dengan paru-paru; demikian juga dengan keluarga sebagai struktur institusional memiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau alconomi.
4.      Baik di dalam sistem organisme maupun sistem sosial, perubahan pada suatu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. Perubahan sistem politik dari suatu pemerintahan demokratis ke suatu pemerintahan totaliter akan mempengaruhi keluarga, pendidikan, agama dan sebagainya. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain.
5.      Bagian-bagian tersebut, walau saling berkaitan, merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah. Demikianlah maka sistem peredaran atau sistem pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan media, seperti halnya sistem politik atau sistern ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi.

Dari uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa menurut Spencer masyarakat dipandang sebagai organisme hidup yang alamiah dan deterministis (bebas). Semua gejala sosial diterangkan berdasarkan hukum alam. Hukum yang mengatur pertumbuhan fisik tubuh manusla juga mcngatur pertumbuhan sosial. Manusia sebagai individu tidak bebas dalam menentukan arah pertumbuhan masyarakat. Manusia sebagai individu justru ditentukan oleh masyarakat dalam pertumbuhannya. Masyarakat berdiri sendiri dan berkembang bebas dari kemauan dan tanggung ja anggotanya di bawah kuasa hukum alam.
            Hubungan individu dan masyarakat berdasarkan kolektivisme. Menurut pandangan kolektif masyarakat mempunyai realitas yang kuat. Segala sesuatu kepentingan individu ditentukan oleh masyarakat. Masyarakat mengatur secara seragam untuk kepentingan kolektif.

Sumber :

Selasa, 11 Januari 2011

BAKTI SOSIAL

Mungkin anda sudah tidak asing dengan kata "bakti sosial" . Ya, ini adalah salah satu kegiatan sosial yang biasa dilakukan di sekitar kita. kegiatan ini biasa dilakukan saat terjadi bencana misalnya, berbondong-bondong orang melakukan bakti sosial untuk membantu mereka yang membutuhkan. Tapi tidak harus menunggu terjadi bencana untuk melakukan bakti sosial ini. Kita bisa datang ke panti-panti seperti panti asuhan, panti jompo, atau panti untuk para penyandang cacat. di tempat-tempat itulah kita bisa melakukan banyak kebaikan yang disebut dengan bakti sosial. Kita bisa menyumbangkan uang, makanan, atau bahkan jasa untuk menolong mereka yang sedang kesulitan. Tujuannya sangat baik, yaitu untuk mengurangi beban yang sedang diderita saudara-saudara kita.
Saya sendiri pernah beberapa kali melakukan bakti sosial. Salah satunya ke panti penyandang cacat di kawasan jakarta barat. Begitu tiba disana, saya dan teman-teman lainnya terdiam. Kami merasa kasihan melihat kondisi mereka yang tidak dikaruniai fisik maupun mental yang sempurna. Kami merasa jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Karena kami lebih beruntung dari mereka. Kami punya fisik yang lengkap dan kami pun bersyukur masih bisa tinggal bersama keluarga di rumah kami sendiri. Tidak seperti mereka yang tinggal di panti itu bahkan dengan kondisi fisik yang cacat.
Sempat tersirat di benak saya, dimana keluarga mereka ? Mengapa mereka ada di panti ini ? Mengapa tidak tinggal bersama keluarganya ? Sungguh miris melihat keadaan seperti itu. Tapi mereka hanya cacat fisik, bukan cacat hati. Mereka bisa merasakan senang, sedih, sama seperti kita. Di panti itu mereka diajarkan berbagai macam. Mereka diajarkan membuat banyak kreatifitas seperti membuat berbagai macam kerajinan tangan, bahkan hasil dari kerajinan tangan itu mereka jual di koperasi panti. Biasanya orang-orang yang berkunjung ke panti itu membeli souvenir hasil kerajinan tangan yang dijual di koperasi panti tersebut.
Sebagian dari mereka juga pandai bermain alat musik. mereka punya group band yang personilnya penyandang cacat semua. Ada juga kelompok vocal group yang memang suaranya sungguh indah. Saya tidak menyangka mereka bisa melakukannya. Mereka tetap semangat menjalani hidup meskipun kondisi mereka seperti itu. . Kunjungan kami ke panti itu sangat bermanfaat. Saya jadi berfikir kalau mereka bisa, saya pasti juga bisa. Dari situ saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan YME atas karunia yang telah Ia berikan kepada saya selama ini. Setelah pulang dari tempat itu saya bertekad tidak akan menyia-nyiakan hidup saya. Saya akan menggunakan hidup saya untuk hal-hal yang bermanfaat untuk saya maupun untuk orang lain. Saya juga ingin berprestasi dan mempunyai kelebihan, seperti yang mereka lakukan.

Minggu, 09 Januari 2011

Anak Jalanan


Anak jalanan adalahsebutan untuk anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, sebagian dari mereka masih memiliki hubungan dengan keluarganya tapi ada juga yang sudah tidak memiliki keluarga. Tapi sampai sekarang belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak
Situasi anak jalanan di Indonesia cukup memprihatinkan karena sampai hari ini masalah-masalah  anak-anak yang berada di jalanan ini, belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Jumlahnya terus-menerus meningkat.
Selama ini, program-program pengentasan dari pemerintah hanya lebih mengamankan peraturan-peraturan daerah saja. Anak-anak tidak dibenarkan hidup di jalanan. mereka dianggap sebagai pengganggu keamanan kota dan sebagainya, mereka melakukan semua itu hanyalah untuk menyelamatkan peraturan daerah, untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan. Bukan substansi akar masalah dari anak-anak itu.

Bukankah sumber masalah utamanya adalah "KEMISKINAN" ?  Negara yang harus melindungi mereka, baik itu di jalanan, melindungi mereka dari hak-hak mereka mendapat akses pendidikan dan sebagainya.
Memang tidak salah jika tujuan mereka membersihkan pandangan kota dari anak jalanan yang sehari-hari makan, tidur, dan bekerja disana. Tetapi sebagai pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap rakyatnya, merekalah yang harusnya memberikan bantuan kepada anak-anak jalanan itu. Pemerintah seharusnya memberi tempat seperti yayasan untuk mereka. Disana anak-anak jalanan bisa diajarkan berbagai macam kreativitas dan ilmu agar mereka punya bekal untuk dunia kerja. dengan adanya pembekalan ilmu dan kreatifitas  diharapkan mereka bisa memanfaatkannya saat umur mereka cukup untuk mencari "rupiah". Dengan begitu mereka tidak akan tinggal di jalanan lagi, dan pengangguran di Indonesia juga berkurang tentunya.

Sumber
  • http://www.google.co.id/imglanding?q=anak+jalanan&um=1&hl=id&sa=G&tbs=isch:1&tbnid=T5ccLdLRgU0BJM:&imgrefurl=http://www.wongmojokerto.com/2009/09/satpol-pp-mojokerto-pantau-titik-lampu.html&imgurl=http://desiarianti.files.wordpress.com/2009/05/image4.jpg&zoom=1&w=400&h=284&iact=hc&ei=oXYpTdu8BciecJTk9b4B&oei=pnUpTZz9L8irrAe62qW7Cw&esq=2&page=2&tbnh=143&tbnw=191&start=21&ndsp=22&ved=1t:429,r:8,s:21&biw=1360&bih=578
  • http://www.google.co.id/imglanding?q=anak+jalanan&um=1&hl=id&sa=G&biw=1360&bih=578&tbs=isch:1&tbnid=xdOv70h3ZI9HxM:&imgrefurl=http://oktasihotang.com/2010/01/25/anak-jalanan-juga-manusia/&imgurl=http://oktasihotang.com/wp-content/uploads/2010/01/anak_jalanan_111.jpg&zoom=1&w=300&h=270&iact=hc&ei=pnUpTZz9L8irrAe62qW7Cw&oei=pnUpTZz9L8irrAe62qW7Cw&esq=1&page=1&tbnh=129&tbnw=135&start=0&ndsp=21&ved=1t:429,r:1,s:0

Jumat, 03 Desember 2010

PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA

Dari sekian banyak kejadian dalam kehidupan, mungkin kematian adalah hal yang paling kita takuti. Perpisahan, kesedihan, tangisan, ketidakpastian (amal-dosa) menjadi triger ketakutan kita terhadap kematian. Sehingga, dengan berbagai cara, manusia berusaha ‘berlari’ menjauhi kematian. Sayangnya, sekeras apapun daya upaya, sekencang apapun berlari menjauh, kematian akan tetap menjangkau siapa pun yang memiliki jiwa dan raga. Berapa banyakkah orang mati dalam sehari? Setahun?

Berdasarkan data WHO yang dirilis di wikipedia, tahun 2005 terdapat 57,03 juta orang meninggal di seluruh dunia. Ini berarti rata-rata 156.000 orang yang meninggal tiap harinya. Sebagian besar meninggal karena faktor usia yang ditriger oleh penyakit serangan jantung, infeksi, kanker dan stroke. Sekitar 35.000-50.000 diantaranya karena faktor penyakit, kecelakaan dan bencana. Pada tahun 2005, jumlah penduduk dunia sekitar 6.4 miliar jiwa. Untuk menghitung jumlah angka kematian pada tahun 2009, digunakan data statistik jumlah penduduk dunia, usia rata-rata kehidupan, statistik kematian karena faktor non-usia, serta perkiraan komposisi demografi penduduk dunia.

Dengan penduduk sekitar 6.79 miliar jiwa per Oktober 2009, sekurang-kurangnya dalam 1 hari ada 150.000 orang meninggal dunia, yang mana sekitar 2/3 meninggal karena usia lanjut. Sisanya karena penyakit (jantung, rokok, kanker, hiv, tumor), kecelakaan, atau bencana alam. Dengan menggunakan usia rata-rata harapan hidup penduduk dunia sebesar 67.2 tahun, maka kita dapat menghitung angka statistik kematian yang terjadi pada tahun 2009, lengkap dengan statistik kematian bulanan, harian, jam-an, menitan hingga detik.

Tabel Kalkulasi Statistik Kematian Penduduk Dunia Per waktu



Dengan menggunakan angka statistik yang dihimpun dari beberapa sumber di wikipedia dan asumsi statistik, maka dapat diperkirakan angka kematian pada tahun 2010 ini mencapai 66 juta jiwa. Jumlah ini diperkirakan merupakan angka ideal minimum. Artinya, kemungkinan besar angka kematian pada tahun 2010 dapat melebihi angka ini, terkait dengan perubahan iklim yang cukup mencolok pada tahun 2010 seperti badai El-Nino.

Berbagai fenomena alam seperti banjir, angin topan, turut menyumbang bencana kelaparan seperti gagal panen. Kemiskinan ditengah krisis finansial akan mempengaruhi angka harapan hidup, yang mana masih banyak warga di belahan dunia mengalami gizi buruk seperti di Afrika, beberapa wilayah India, termasuk juga beberapa daerah di Indonesia. Peperangan setidaknya berkontribusi 0.3% terhadap total penyebab kematian manusia.

Tiap detik rata-rata 2 orang meninggal dunia. Dalam 1 bulan lebih dari 5 juta orang menghempuskan nafas, meninggalkan dunia ini.

Berdasarkan Laporan PBB Maret 2008, total angka kematian yang terjadi pada tahun 2006 sekitar 62 juta jiwa (wikipedia). Dari 62 juta jiwa, 58% atau 36 juta jiwa meninggal disebabkan oleh kelaparan, penyakit dan kekurangan gizi. (mari berhemat!!) Berdasarkan statistik tahun 2006 dan perhitungan tahun 2010 ini, maka dari 66 juta jiwa yang akan meninggal pada tahun 2010, setidaknya 2 juta berasal dari warga Indonesia. Ini berarti, angka kematian rata-rata Indonesia sekitar 170 ribu jiwa per bulan. Wow…

Belajar dari statistik ini, sebenarnya hidup kita hanyalah sementara di dunia ini. Kematian bisa kapan saja menjemput kita. Untuk membuat tulisan ini saja, setidaknya belasan ribu orang sudah tewas (butuh sekitar 1.5 jam buat tulisan ini). Angka ini akan terus bertambah seiring dengan gerak jarum jam, seirama dengan detak jantung kita. Jika dibandingkan, maka angka kematian akibat bencana alam seperti di Tasik maupun Sumatera Barat tidaklah sebanding dengan kecepatan rata-rata manusia di bumi meninggal dunia. Tentu angka 66 juta terasa jumlah yang besar sekali. Angka besar ini tidak berarti apa-apa, jika kita tidak memetik pelajaran dari setiap fenomena ataupun statistik dunia.


Sumber: http://nusantaranews.wordpress.com/2009/10/16/tahun-2010-66-juta-penduduk-meninggal-dunia/

Sabtu, 27 November 2010

PERTUMBUHAN PENDUDUK LOKAL

Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk

Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1  juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025 (Tabel 3.1). Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun, kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34 persen dan  0,92 persen per tahun. Turunnya laju pertumbuhan ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian, namun penurunan karena kelahiran lebih cepat daripada penurunan karena kematian. Crude Birth Rate (CBR) turun dari sekitar 21 per 1000 penduduk pada awal proyeksi menjadi 15 per 1000 penduduk pada akhir periode proyeksi, sedangkan Crude Death Rate (CDR) tetap sebesar 7 per 1000 penduduk dalam kurun waktu yang sama.
Salah satu ciri penduduk Indonesia adalah persebaran antar pulau dan provinsi yang tidak merata.  Sejak tahun 1930, sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, padahal luas pulau itu kurang dari tujuh persen dari luas total wilayah daratan Indonesia. Namun secara perlahan persentase penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun dari sekitar 59,1 persen pada tahun 2000 menjadi 55,4 persen pada tahun 2025. Sebaliknya persentase  penduduk yang tinggal di pulau pulau lain meningkat seperti, Pulau Sumatera naik dari 20,7 persen menjadi 22,7 persen, Kalimantan naik dari 5,5  persen menjadi 6,5 persen pada periode yang sama.  Selain pertumbuhan alami di pulau-pulau tersebut memang lebih tinggi dari pertumbuhan alami di Jawa, faktor arus perpindahan yang mulai menyebar ke pulau-pulau tersebut juga menentukan distribusi penduduk (Tabel 3.1).
Tabel 3.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2000-2025
  • Propinsi200020052010201520202025
    (1)(2)(3)(4)(5)(6)(7)
    11. NANGGROE ACEH DARUSSALAM3,929.34,037.94,112.24,166.34,196.54,196.3
    12. SUMATERA UTARA11,642.612,452.813,217.613,923.614,549.615,059.3
    13. SUMATERA BARAT4,248.54,402.14,535.34,693.44,785.44,846.0
    14. RIAU4,948.06,108.47,469.48,997.710,692.812,571.3
    15. JAMBI2,407.22,657.32,911.73,164.83,409.03,636.8
    16. SUMATERA SELATAN6,210.86,755.97,306.37,840.18,369.68,875.8
    17. BENGKULU1,455.51,617.41,784.51,955.42,125.82,291.6
    18. LAMPUNG6,730.87,291.37,843.08,377.48,881.09,330.0
    19. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG900.0971.51,044.71,116.41,183.01,240.0
    31. DKI JAKARTA8,361.08,699.68,981.29,168.59,262.69,259.9
    32. JAWA BARAT35,724.039,066.742,555.346,073.849,512.152,740.8
    33. JAWA TENGAH31,223.031,887.232,451.632,882.733,138.933,152.8
    34. D I YOGYAKARTA3,121.13,280.23,439.03,580.33,694.73,776.5
    35. JAWA TIMUR34,766.035,550.436,269.536,840.437,183.037,194.5
    36. BANTEN8,098.19,309.010,661.112,140.013,717.615,343.5
    51. B A L I3,150.03,378.53,596.73,792.63,967.74,122.1
    52. NUSA TENGGARA BARAT4,008.64,355.54,701.15,040.85,367.75,671.6
    53. NUSA TENGGARA TIMUR3,823.14,127.34,417.64,694.94,957.65,194.8
    61. KALIMANTAN BARAT4,016.24,394.34,771.55,142.55,493.65,809.1
    62. KALIMANTAN TENGAH1,855.62,137.92,439.92,757.23,085.83,414.4
    63. KALIMANTAN SELATAN2,984.03,240.13,503.33,767.84,023.94,258.0
    64. KALIMANTAN TIMUR2,451.92,810.93,191.03,587.93,995.64,400.4
    71. SULAWESI UTARA2,000.92,141.92,277.22,402.82,517.22,615.5
    72. SULAWESI TENGAH2,176.02,404.02,640.52,884.23,131.23,372.2
    73. SULAWESI SELATAN8,050.88,493.78,926.69,339.99,715.110,023.6
    74. SULAWESI TENGGARA1,820.32,085.92,363.92,653.02,949.63,246.5
    75. GORONTALO833.5872.2906.9937.5962.4979.4
    81. M A L U K U1,166.31,266.21,369.41,478.31,589.71,698.8
    82. MALUKU UTARA815.1890.2969.51,052.71,135.51,215.2
    94. PAPUA2,213.82,518.42,819.93,119.53,410.83,682.5